Muamalah & Fiqih•4 menit baca•

Adab Berhutang dan Menagih Piutang Menurut Sunnah Nabi ﷺ

Islam membolehkan hutang piutang untuk tolong-menolong, namun melarang keras menunda pembayaran bagi yang mampu serta menganjurkan kelonggaran bagi yang benar-benar kesulitan.

Hutang adalah perkara muamalah yang memiliki konsekuensi besar hingga ke akhirat. Rasulullah ﷺ bahkan pernah menolak menshalatkan jenazah seorang sahabat yang masih memiliki tanggungan hutang sebelum ada sahabat lain yang menjamin pembayarannya.

Etika Penting dalam Hutang Piutang 1. **Catat Transaksi dengan Jelas:** Dalam Surah Al-Baqarah ayat 282 (ayat terpanjang dalam Al-Qur'an), Allah mewajibkan penulisan akad hutang dan batas waktu jatuh temponya agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari. 2. **Berniat Kuat untuk Melunasi:** Barangsiapa berhutang dengan niat tulus untuk membayarnya, Allah akan mempermudah jalannya untuk melunasi hutang tersebut. 3. **Jangan Menunda Bagi yang Mampu:** Rasulullah ﷺ bersabda, *'Menunda-nunda pembayaran hutang bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman.'* (HR. Bukhari & Muslim). 4. **Memberi Kelonggaran bagi yang Sulit:** Jika peminjam benar-benar dalam kondisi sempit, pemberi pinjaman dianjurkan memberi tenggang waktu atau bahkan mengikhlaskannya sebagai sedekah.